Kamis, 19 Mei 2011

Pendidikan Integral Suatu Keharusan

Falsafah Pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Bangun Karso, Tutwuri Handhayani membutuhkan keteladanan seluruh komponen pendidikan, terutama guru. Sebab guru adalah ikon untuk bisa digugu dan ditiru (dituruti kata-katanya dan dijadikan tauladan perilakunya). Oleh itu keteladanan guru merupakan suatu keharusan.

Sehingga tujuan pendidikan nasional: berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, dapat terwujud. Perwujudan tujuan itu tidak mungkin dapat tercapai jika integritas moral dan spiritual dalam proses pendidikan hanya merupakan sebuah slogan semata.

Sadarilah, bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik akhlak, memberikan pembinaan agama dan dunia, memberikan sesuatu yang berguna, memberikan pengetahuan, dan memberikan keterampilan hidup (Falsafah al Tarbiyah al Islamiyah, Musthafa Athiyah, 1969). Hal tersebut sesuai pula dengan acuan operasional Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwa: keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. ( Diporting oleh : Budi.ES. dari berbagai sumber )

Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang pembentukan iman, taqwa serta akhlak mulia. Pembentukan iman, taqwa serta akhlak mulia merupakan wujud pendidikan integral. Dan itu menuntut seluruh komponen pendidikan; baik guru, siswa, tenaga kependidikan, serta kurikulum yang mengarah pada perbaikan moral.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka ilmu pengetahuan harus diberikan secara utuh, tidak parsial, atau sekuler. Artinya anak didik tidak hanya diberi pengetahuan secara kognitif semata, namun disertai dengan kesadaran akan Tuhan-nya ~ranah afektif. Sehingga akan melahirkan pribadi yang beradab dalam ranah psikomotoriknya, jujur dan amanah. Sebab kejujuran dan rasa tanggungjawab itu merupakan pilar utama dalam membangun sebuah peradaban dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Untuk mengoptimalkan tujuan tersebut, maka guru harus memperbaiki diri lebih dahulu dan memberikan landasan spiritual pada setiap mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Ketahuilah, spiritualitas itu tidak hanya milik pendidikan agama. Namun seluruh ilmu pengetahuan itu mengandung nilai-nilai spiritual juga. Kenapa? Karena pengetahuan itu bersumber dari sang Clausa Prima, al `Aliim, Yang Maha Mengetahui. Dengan landasan kesadaran berketuhanan atau kesadaran spiritual itu diharapkan output dan outcome peserta didik adalah manusia yang berakhlak mulia.

Pendidikan integral ini mendesak untuk implementasikan mengingat gelombang dekadensi moral semakin menggerogoti anak bangsa tercinta. Angkat sebuah misal, kasus Ver (17), PSK ABG itu Ranking 10 SMP Favorit di Surabaya, (Harian Surya, Minggu, 10 Oktober 2010). Atau, pengrebekan dua pelajar SMA yang melakukan adegan hot di sebuah Warnet di Kalijudan Surabaya baru-baru ini. Dan contoh mengenaskan lainnya, Geger Video Dua Anak SMP di Tulungagung (Harian Surya, Jumat, 7 Januari 2011).

Kasus-kasus tersebut dilakukan oleh anak-anak yang masih berstatus siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan atas (SMA). Sungguh hal tersebut merupakan tamparan bagi dunia pendidikan karena belum mampu menghasilkan anak didik yang bertanggungjawab. Hal tersebut merupakan akibat dari hilangnya kesadaran spiritual dalam pendidikan dan lemahnya kontrol serta peran masyarakat dalam menanamkan pendidikan moral.

Agar kasus-kasus seperti di atas tidak mewabah, maka pendidikan integral yang menyinergikan antara pengetahuan dan akhlak bagi anak didik mendesak untuk kita maksimalkan. Mengingat semua itu merupakan tanggungjawab kita bersama, maka seluruh komponen bangsa harus dilibatkan dalam proses pendidikan secara menyeluruh. Dengan harapan pada dekade yang akan datang kita bisa menatap masa depan yang lebih cemerlang dan memiliki berkepribadian utuh. Semoga kita -terutama para guru- mampu melahirkan pribadi yang bertanggung jawab sebagaimana amanah tujuan pendidikan nasional.

Guru Lempar Batu, Murid Demo Mundur

Sekitar 500 murid SMK 15 Bandung, Jawa Barat, mendemo tindak kekerasan yang dilakukan gurunya. Unjuk rasa dipicu oleh kekerasan guru terhadap salah satu siswa bernama Rommy Andrian, siswa kelas 10.

Menurut pengunjuk rasa, guru berinisial AA melempar batu hingga kepala Rommy terluka. Aksi tersebut dipusatkan di Lapangan SMK 15. Mereka menuntut AA mundur.

Dalam aksinya, para siswa SMK 15 berkumpul di lapangan sambil membawa sejumlah poster bertuliskan, "Lempar jumroh di Mekkah, bukan di Kantin", "When justice freedom, keluarkan AA", dan "Kami butuh pelajaran bukan penghajaran."

Akibat unjuk rasa, kegiatan belajar mengajar di SMK 15 sempat tersendat selama beberapa jam.

Rommy menuturkan, kejadian tersebut bermula saat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Ketika para guru sedang melakukan rapat, Rommy bersama beberapa temannya pergi ke kantin. Namun, mereka dipergoki AA yang kemudian melemparkan batu bata hingga melukai kepala bagian belakangnya.

Kejadian itu, kata Rommy, sudah diketahui orangtuanya dan dinas pendidikan. Masalahnya juga sudah diselesaikan secara kekeluargaan. "Tapi teman-teman takut bapak kembali melakukan tindakan yang sama kepada mereka," kata Rommy, kepada kepada wartawan, Selasa (11/5/2011).

Guru AA memang terkenal galak di SMK 15, tidak jarang guru tersebut memberikan sanksi yang dianggap berlebihan terhadap muridnya yang melakukan kesalahan di lingkungan sekolah.

Kepala Sekolah SMK 15, Erna Ratnasih menyayangkan aksi yang dilakukan oleh para murid. Dia menilai, AA memang selalu menerapkan disiplin tinggi terhadap para siswanya.

Menurut Erna, bagi sekolah dengan jurusan perhotelan, masalah disiplin memang sangat ditekankan. "Yang bersangkutan memiliki perhatian dengan kedisiplinan, karena dalam dunia perhotelan, disiplin memang sangat diterapkan. Saya sangat menyayangkan aksi yang dilakukan anak-anak," katanya.

Erna menjelaskan kejadian yang terjadi minggu lalu itu ketidaksengajaan. Batu bata yang digunakan tidak dimaksud untuk dilemparkan langsung ke Rommy. "Dia melemparkan pecahan batu untuk mengejutkan anak-anak yang tengah bersembunyi, namun batu tersebut mengenai dinding dan akhirnya Rommy terkena lemparan," jelasnya.

Guru AA juga sudah meminta maaf secara pribadi kepada Rommy. Bahkan AA sudah mengundurkan diri. "Sebenarnya dia adalah guru yang ikut andil dalam membangun sekolah, pekerjaannya sangat bagus. Jika anak-anak ingin dia mundur, dengan berat hati saya menerimanya," katanya.

Menilai Siswa Tak Cukup Hanya dengan Tes

Sampai saat ini penilaian (assessment) belum berjalan secara optimal di dunia pendidikan. Penilaian terhadap siswa seharusnya digunakan untuk memberikan dukungan dan membantu siswa yang kesulitan belajar.

Demikian diungkapkan pakar pendidikan Itje Chodidjah di Jakarta, Senin (9/5/2011). Ia mengatakan, salah satu penyebabnya adalah dunia pendidikan Indonesia saat ini masih berpatokan bahwa keberhasilan siswa hanya ditentukan dengan ujian tertulis. Padahal, untuk mengetahui kemampuan dan permasalahan siswa dalam belajar harus dipraktikkan dalam assessment di sepanjang masa sekolah, bukan di akhir masa sekolah.

"Nilai yang dicapai dalam testing itu hanya sekadar angka 1 sampai 100. Namun, itu tidak merepresentasikan kemampuan yang dicapai siswa," ujar Itje kepada Kompas.com.

Itje mencontohkan dalam pelajaran bahasa. Menurut dia, kemampuan orang berbahasa harus dilihat dari beberapa proses, seperti ketika siswa menulis, membuat karangan kecil, lalu beberapa kali siswa mengubah konsep karangannya. Hal tersebut dilakukan agar kemampuan siswa dapat terpantau secara bertahap.

Itje pun mencontohkan seorang siswa yang mendapatkan nilai 75 dalam ujian tertulis dengan tipe pilihan ganda. "Siapa yang mampu menilai kemampuan anak tersebut? Apakah anak itu hanya dapat nilai 75 saja atau dia memang punya kepandaian khusus? Kalau kita lihat saat ini, tidak banyak siswa lulusan SMA yang bisa berbahasa Inggris lancar kalau dia tidak ikut kursus," papar Itje.

Selain itu, Itje menambahkan, kurikulum juga dapat menjadi salah satu penyebab. Ia menilai kurikulum saat ini perlu dibenahi dalam tata pelaksanaannya di lapangan agar tujuan dari assessment menjadi jelas.

Tata pelaksanaan di lapangan, lanjut Itje, misalnya, ketika pemerintah menyosialisasikan kurikulum terhadap guru-guru di berbagai daerah. Ia menilai sosialisasi kurikulum pada 2006 masih terdapat banyak kekurangan. Salah satunya adalah pelaksanaan yang sporadis sehingga ada guru yang tahu kurikulum tersebut, tetapi tak sedikit pula yang angkat bahu.

"Sporadis di sini dalam arti, misalnya, satu kabupaten dipanggil dua sampai tiga guru dalam sosialisasi tersebut. Namun, bagaimana dua atau tiga guru itu bisa menangani satu kabupaten? Tidak mungkin. Nah, seharusnya dapat dilakukan penataan, misalnya dengan klaster-klaster dalam sosialisasinya," kata Itje.

Terus didengungkan

Itje mengatakan, saat ini assessment harus terus didengungkan. Hal itu agar proses pembelajaran tidak lagi dalam bentuk tes tertulis untuk mengukur kemampuan siswa.

Para guru juga perlu diberikan pemahaman dan pelatihan agar pelaksanaan assessment menjadi jelas. Pasalnya, menurut Itje, sebesar apa pun pemerintah ingin menjalankan assessment, jika guru-guru tidak memiliki pemahaman yang baik, proses tersebut akan menjadi sia-sia.

"Paradigma guru juga perlu diubah karena biasanya saat ini guru tidak sreg kalau tidak ada testing," tutup Itje. 

Kemdiknas Akan Ganti Buku Cetak dengan Komputer Tablet



Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mengembangkan komputer tablet yang berisi materi pelajaran. Komputer tablet ini nantinya akan menggantikan buku cetak pelajaran yang selama ini digunakan oleh siswa sekolah.

"Komputer tablet ini akan digunakan sebagai bagian utama dalam sistem pelajaran," ujar Mendiknas M Nuh di kantor Kemendiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (2/5/2011).

Nuh mengatakan buku yang berbentuk cetak hanya akan menjadi penunjang komputer tablet tersebut. Sehingga para siswa tidak perlu lagi membawa buku yang banyak dan berat ke sekolah.

"Itu yang membuat mereka kecapekan," ungkapnya.

Kemendiknas dalam hal ini bekerjasama dengan Microsoft Indonesia dan Intel Indonesia. Sayangnya Nuh tidak menjelaskan kapan komputer tablet ini mulai diluncurkan. Nuh juga tidak sempat menjelaskan mengenai komputer tablet ini apakah akan dibagikan kepada setiap siswa atau mereka harus membeli.

Sementara itu Direktur Utama Microsoft Indonesia Sutanto Hartono mengatakan kerjasama tersebut bertujuan untuk meningkatkan metode pengajaran para guru. Dengan program ini diharapkan guru dan tenaga pengajar akan siap menggunakan metode belajar mengajar abad ke 21.

"Selain itu juga dapat meningkatkan performa dalam hal e-learning," jelas Sutanto.

Sutanto menjelaskan Microsoft berkomitmen untuk memberikan dukungan piranti lunak yang dapat diunduh secara gratis dalam rangka proses akademik yang akhirnya akan mendukung karir para siswa di masa mendatang. Microsoft mendukung terus dunia pendidikan Indonesia dalam menyongsong era pendidikan era abad 21.

"Soal harga akan dibicarakan lebih lanjut," ujarnya.

Manager Humas Intel Indonesia Corporation Dhyoti R. Basuki mengungkapkan hal serupa. Kerjasama ini merupakan pemanfaatan program dengan tujuan mendukung pilar-pilar kebijakan pendidikan di Kemendiknas.

"Dalam pelaksanaan kerjasama ini, Intel akan memperkuat inisiatif pendidikan di Indonesia. Bertujuan untuk memperluas konektivitas pendidikan berbasis TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) dan pengembangan konten. Kerjasama ini diharapkan membantu para guru dalam proses pengajaran sehingga menghasilkan metode belajar yang efektif sehingga akan mendorong kreativitas dan inovasi para siswa," jelasnya.

UN 2011 dari Kacamata Seorang Siswa

UJIAN Nasional (UN) yang dilaksanakan oleh Kemendiknas dari tanggal 18-21 April 2011 dalam pelaksanaannya bisa dinilai cukup baik. Dimana UN kali ini dilaksanakan dengan tetap mendengar aspirasi dari berbagai pihak.

Seperti nilai kelulusan tak lagi mutlak berdasarkan hasil pelaksanaan UN semata. Tapi juga memperhatikan nilai-nilai siswa di sekolah. Sehingga tekanan mental siswa maupun guru juga berkurang dalam menghadapi UN ini.

Lalu, pelaksanaannya yang memakai sistem lima paket juga mendukung agar tidak terjadinya kebocoran kunci jawaban yang selama ini sering terjadi. Pengaduan yang didapat di posko UN pun berkurang dari tahun sebelumnya yang terdapat 800 lebih pengaduan menjadi hanya 105 pengaduan

Jumat, 31 Desember 2010

Selamat Jalan Tahun 2010

Tahun 2010 adalah :
¤Tahun masa lalu
¤Tahun yg penuh kenangan
¤Tahun Intropeksi diri
¤Tahun Renungan
¤Tahun yg penuh memori

Selamat Datang Tahun 2011

Pada hari jumat tgl 31 Desember 2010 adalah merupakan hari terakhir di penghujung tahun 2010. Tepat pukul 00.00 tahun baru 2011 muncul di depan mata kita, tahun harapan untuk memperbaiki diri dalam segala hal agar menjadi lebih baik lagi. Selamat tinggal thn 2010 N Selamat datang tahun baru 2011. Smga kita sllu dlm lindungan Tuhan Xang Maha Kuasa. Aaamiin....